Showing posts with label gempar. Show all posts
Showing posts with label gempar. Show all posts

Sunday, July 26, 2009

Kerja Rakyat...

Pagi-pagi...
Baru bangun...
Aku udah denger si mama ngomel...

Ngomelnya gara-gara baca Kompas, tentang penolakan hasil penghitungan KPU
Inti omelannya begini...
"Kok bisa-bisanya perhitungan itu ditolak, itu kan namanya tidak menghargai kerja keras rakyat. Yang menghitung kan bukan KPU, tapi orang-orang di TPS. Yang protes itu kan gak tau kalo yang di TPS ngitung sampe capek. Apalagi waktu ngitung partai, dari jam 1 siang sampe jam 3 pagi baru pada selesai. Belum lagi bolak-balik ke kelurahan untuk klarifikasi. Yang ngitung juga gak punya kepentingan buat menangin partai apapun atau presiden siapapun. Kok seenaknya aja orang bilang curang lah, yang punya kepentingan lah... Emang yang repot mereka! Kakak apa adek nih, nulis sana di koran... Kalian kan anak-anak muda, jangan diam saja... Tunjukkan bahwa rakyat itu murni bekerja... Mama udah gak sempat tulis-tulis lagi..."

Hmmm,omelan yang menarik dan inspiratif, hehehe...
Menarik karena topik ini sedang hangat dibicarakan...
Inspiratif karena saya memang sudah lama ingin menulis mengenai Pemilu sejak pemilu legislatif kemarin dan sudut pandang saya memandang Pemilu ini ternyata hampir sama dengan yang mama saya lihat...

Fenomena penghitungan ini memang sangat menarik untuk dilihat... Tapi, perlu saya kemukakan di sini, saya melihat ini dari sudut pandang saya yang awam terhadap Pemilu, terlepas dari undang-undang yang mengatur atau ranah politik yang njelimet itu.

Ketertarikan saya berawal di pileg yang membutuhkan ketelitian luar biasa dalam menghitung... Gimana enggak, lha wong partai yang dipilih aja ada segambreng, apa lagi calegnya... Belum lagi mesti melihat mana yang dicontreng caleg atau partai karena katanya gak boleh dobel...
Udah gitu, dicontreng dengan bolpen merah yang kecil (katanya) yang berarti membutuhkan ekstra mata karena boleh jadi bakal susah dilihat karena coretannya kecil.
Saya waktu itu tidak ikut milih karena memilih liburan ke semarang. Di Semarang, saya liat orang menghitung sampai jam 1 malam dan papa saya di Jakarta menghitung sampai jam 3 pagi!
Setelah disetor ke kelurahan dan dihitung sampai akhirnya diterima hasil perhitungan akhirnya, kira-kira papa saya harus bolak-balik sekitar 4 kali ke kelurahan.
Saya benar-benar geleng-geleng kepala... Apalagi sambil membayangkan, bagaimana di pelosok yang sulit terjangkau... Untuk paham instruksi menghitung saja sudah sulit, apalagi prakteknya.

Kalau penghitungan untuk pilpres, memang lebih mudah. Pilihan cuma ada 3 dan tidak perlu melihat partai atau orang. Juga tidak perlu ada 2-3 kertas suara yang lebar-lebar segede gaban,hehehe... Orang cepat memilih juga. Jadi waktu memilih tidak lama. Orang tidak perlu antri sampai mengular. Proses penghitungan pun tidak makan waktu lama. Mulai siang, sore sudah selesai. Hasilnya di tempat saya SBY-Budiono pemenangnya, hampir 80% dari suara yang masuk. Tidak perlu ada klarifikasi sampai bolak-balik juga ke kelurahan.

Yang paling seru dari pilpres di tempat saya adalah suasananya... Semua orang keluar dengan suka cita, dengan baju-baju bagus dan rapi menuju TPS.... Saling bertegur sapa dan bersalam-salaman, mirip dengan suasana lebaran... Semua sepertinya mantap dengan pilihan mereka dan saling menerima bila ada yang berbeda pilihan.

Well, sepertinya alasan mama saya untuk ngomel cukup beralasan kan. Kita semua, sebagai akar rumput (cieeee,bahasanya aktipis banget,padahal gak tau artinya :p) sudah berupaya untuk mensukseskan pemilu, tapi elit politik di sana masih tetap tidak percaya hasil dari kita.
Padahal tadinya mereka yang minta-minta suara kita, udah kasih suara, dituduh curang pula karena hasilnya gak sesuai harapannya,hehehehe...

Saya gak tau ada permainan apa di KPU or di mana tempat yang related dengan penghitungan pemilu.
Saya juga gak ngerti permainan politik atau apalah yang berhubungan dengan kekuasaan...
Yang saya tau, rakyat sudah bekerja keras...
Toh dari dulu sampai sekarang, perubahan ke arah lebih baik baru sedikiiiiiiiiiiiiiiiiit sekali dilakukan, bahkan saking sedikitnya saya sampai tidak bisa memberi contoh,hehehe...
Harusnya, kerja rakyat dihargai...
Tidak ditolak begitu saja...
Toh kalau ada pilpres putaran ke-2, tetap kami yang repot...
Hasilnya, belum tentu beda sama yang sekarang...
Dan duit penyelenggaraannya juga duit kami juga, kan...
Pajak kami juga...

Yaaaaa...
Mestinya kalo mau maju, harus sama-sama lah...
Baik yang menang maupun yang kalah harus sama-sama memikul tanggung jawab memajukan negara, bersama-sama rakyat...
Bukan saling menghujat...
Siapapun pemimpinnya, semoga Indonesia bisa jadi lebih baik...

#indonesiaunite...




Thursday, September 4, 2008

Lagi-lagi Pembunuhan...

Tadi malam mas Riza, suamiku, telpon...

Dia bilang lupa nyampein kalo suaminya dr. Lilien (obgyn-ku) di Semarang meninggal tanggal 31 Agustus kemarin. Padahal waktu tanggal 30, mas Riz masih kondangan dan ketemu dengan bu Lilien.

Mas Riza bilang, dr Arya (suami bu Lilien) meninggal dibunuh orang di hotel.
Berita selengkapnya bisa dibaca di sini.
Sebelumnya mas Riza gak tau karena gak baca korang or nonton tivi. Taunya pas hari Senin (tgl 1 Sep) dia ke kantor, di kantor sepiiii banget. Ternyata semua orang lagi pada layat ke tempat bu Lilien.

Aku juga gak tau tentang berita ini. Lha gimana mau tau, lha wong di rumah nyetelnya playhouse disney, hehehe
So, jadilah aku browsing di internet soal ini. Ternyata beritanya banyak juga. Hari ini pun pelakunya udah tertangkap. Beritanya baca di sini.

Yang heran, kok ternyata berita-berita yang kayak begitu ada di dekatku ya?
Bulan lalu, tetangga temen kantor juga dibunuh dan dimasukin koper.
Dulu tetanggaku di Semarang juga dibunuh, beritanya di sini.

Duh, mudah-mudahan gak terjadi lagi deh...
Kan dunia lebih indah kalo aman dan tentram...
Peacee lagi deh

Wednesday, September 5, 2007

Gempaaaar...!!!

Senin, 03 September 2007, menjelang maghrib, aku di Carrefour DP Mall bersama adik iparku. Tiba-tiba hape berdering. ID caller yang muncul cukup mengagetkan karena gak biasanya mbak Par telpon ke hape.

"Halo... kenapa, mbak? Sha rewel..?" tanyaku...

"Gak, kak. Aku mau kasih tau aja, di deket rumah banyak polisi. Ada pembunuhan."

Detak jantungku rasanya seperti berhenti saat dengar kata yang terakhir disebut itu...

"Apa, mbak...???"

"Itu lho, rumah gambar panda di depan toko material. Ibunya disitu dibunuh. Digorok lehernya, katanya. Jadi sekarang di situ rame banget. Banyak polisinya. Ntar kalo kamu pulang takutnya gak bisa lewat. Kendaraan juga banyak. Orang-orang masih pada lihat."

Aduh...dengar lokasi yang disebutkan, aku langsung lemas. Itu tetanggaku. Rumahnya hanya berselang jalan. Jujur, aku takut sekaligus kuatir dengan keselamatan mbak dan Sha.

"Iya deh, mbak. Aku masih di Carrefour. Semuanya baik aja kan. Sha gak papa? Aku usahakan cepat pulang. Hati-hati, mbak. Pintu ditutup dan dikunci. jendela juga. Take care."

"Iya, kak. Ini Sha mau aku bikinkan susu."

Telpon kumatikan. Saat itu rasa takut, bingung, cemas, kuatir, semua campur aduk. Belum hilang kegemparan soal culik-menculik yang bikin aku sedikit paranoid, ternyata ada musibah buruk yang terjadi di dekat rumah. Tambah stress lah aku.

Yang bisa kulakukan cuma berdoa memohon keselamatan pada-Nya. Mohon lindungan agar dijauhkan dari segala musibah. Dan yang pasti, lingkungan juga harus makin solid menjaga keamanan. Doakan juga ya...

Oya, cerita lengkap tentang pembunuhan ini bisa diakses di: http://www.suaramerdeka.com/harian/0709/04/nas05.htm